Salam ceperist

SALAM CEPERISTt....

Salam ceperis/....! Bangka Belitung Disini Cp.085669579080

Rabu, 03 Agustus 2011

kota Muntok

Mobil BN 10 kendaraan Bung Karno dalam pengasingan
Perjalanan menjelajahi Pulau Bangka berlanjut, kali ini kaki saya melangkah ke Bumi Sejiran Setason, Kota Muntok. Daerah bagian Barat Pulau Bangka ini terkenal dengan  Sejarah Pengasingan Presiden Sukarno.
Pagi mendung mengiringi  perjalanan saya ke muntok atau lebih sering disebut mentok oleh lidah masyarakat Bangka Belitung. Dari Pangkalpinang menuju muntok menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam menggunakan bis umum dengan tarif Rp. 25.000,-/orang. Transportasi menuju kota ini cukup banyak, jika dari bandara pangkalpinang ada travel khusus rute pangkalpinang-mentok yang bisa menjadi alternative pilihan. Satu hal yang selalu saya sukai dari tiap trip di pulau Bangka Belitung, keramahan khas melayu selalu tampak pada supir, kernet bis maupun penumpang, celetukan berbahasa daerah hingga cerita mengenai handai taulan seringkali  membuat  saya tersenyum simpul, sekaligus mengagumi budaya silaturahmi yang begitu unik di provinsi ini. Berangkat Pukul 08.30 WIB dari Kota Pangkalpinang saya tiba di Kota Muntok pukul 11. 45 WIB, Wokee..petualangan dimulai…
Diantar seorang teman dari Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Informatika Bangka Barat mulailah saya memulai perjalanan di kota sejarah ini, hmmm…Muntok memang mengesankan, pertama memasuki kotanya saja, mata saya sudah dimanjakan dengan banyaknya bangunan rumah bergaya colonial Belanda, mengingatkan saya akan kota lama di semarang. Destinasi yang pertama saya kunjungi adalah Bukit Menumbing. Berjarak sekitar 10 km dari Kota Muntok. Tiba di Pos pertama  kami melaporkan kedatangan kami di pos masuk ke kawasan Bukit Menumbing ini. Tarif masuk kawasan juga terjangkau Rp. 2000,-/ orang. Menuju tempat ini kita akan melalui hutan-hutan yang asri dan jalan yang menanjak dan cukup terjal, berkelok2, ada beberapa pemandangan unik disepanjang perjalanan, seperti beberapa pohon2 yang tumbuh diantara celah2 bebatuan bahkan ada yang akarnya membungkus batu2 dikarenakan proses alam yang bertahun-tahun. Bahkan dibeberapa sudut belokan pemandangan hijau pegunungan dan kota muntok akan terlihat dari atas, termasuk area-area penambangan timah. 
Bangunan kuno pos penjagaan menyambut kami di eks Hotel Menumbing, arsitektur bangunan bergaya Belanda dan menyerupai benteng-benteng pertahanan terlihat dibeberapa tempat di komplek ini. Disinilah sang proklamator pernah berdiam, sebuah mobil kuno dengan Plat Nomor Kendaraan BN 10 menghiasai salah satu sudut rumah. Disini kita juga bisa melihat tempat kerja Bung karno, foto-foto beliau beserta tempat tidurnya.  Komplek disekitar bangunan ini beberapa masih kokoh dan terawatt dengan baik, tapi banyak juga yang sudah hancur, pengunjung yang datang cukup banyak juga, bahkan tidak lama kami turun kembali ke kota muntok karena akan ada rombongan sepeda tour Wisata TINS TOUR yang akan naik ke menumbing.
Dari bukit menuju pantai, kali ini saya diajak mengunjungi salah satu Pantai yang juga menjadi saksi sejarah di Kota muntok, Pantai Tanjung Kelian, dari kejauhan sudah terlihat Mercu suar yang menjadi salah satu ciri khas keberadaan pantai ini. Memasuki kawasan Tanjung Kelian kita akan melewati Pelabuhan Kota Muntok, dari tepi2 Pantai tanjung kelian, bisa dilihat banyak bangkai-bangkai kapal yang berserakan, menurut sejarahnya itu adalah bangkai-bangkai kapal jaman penjajahan belanda.  Di sudut kiri pantai, lalu lalang kapal-kapal ekspres angkutan penumpang menutu Palembang bisa kita lihat. Ya, Muntok yang terletak di Bagian Barat Pulau Bangka ini juga menjadi jalur penyebrangan menuju Palembang, hanya 2 jam perjalanan menuju Palembang dengan kapal cepat. 

Bila kuat, anda bisa juga menikmati pemandangan laut dan kota muntok dari  menara mercu suar yang ada di Pantai Tanjung Kelian. Di Pantai ini juga di bangun Prasasti peringatan sebagai ucapan terima kasih pada kapal bantuan kesehatan Australia.
Dari Pantai Tanjung Kelian, perjalanan kami berlanjut menuju Pantai Bakit, Pantai ini sudah terkelola dengan baik sebagai Pantai wisata rekreasi, pemandangan yang indah agak terganggu dengan kehadiran Kapal isap yang beroperasi dibibir pantai. Ditempat ini tersedia juga arena bermain, Flying Folk, juga rumah makan bergaya rumah panggung tradisional yang menyediakan menu seafood yang jelas berasal dari hasil laut yang masih segar, ada juga aula berbentuk rumah tradisioanal beratap rumbia yang sering dijadikan tempat2 acara atau pertemuan.  Sambil menikmati pemandangan dibibir pantai, saya dan teman2 ditemani juga dengan otak-otak bakar yang dijual penduduk setempat.hmmmmmm..sungguh MANTABBBBBBBBS…
Wisma Ranggam
Wisma Ranggam menjadi Tujuan berikutnya, Bangunan tua yang kusam ini terletak di tepi jalan utama Desa Sungai Daeng, Mentok, Bangka. Di rumah ini tersedia delapan kamar tidur dengan satu aula besar yang pernah digunakan 8 pemimpin nasionalis founding father Indonesia selama masa pengasingan 1948-1949. Bangunan ini didirikan tahun 1827 oleh Banka Tin Winning, perusahaan timah Belanda.
Pukul 17.15 WIB, tanpa terasa hari mulai sore tapi langit masih cerah, sebelum kembali kerumah kami diajak memutari dermaga kota Muntok, Pelabuhan Peltim, disinilah banyak masyarakat menghabiskan sore hari sambil menikmati pemandangan matahari terbenam diufuk barat. Sungguh indah.
Melewati komplek Timah dan Pabrik Peleburan dan Pencetakan timah. Disinilah biji2 timah sebangka Belitung diolah menjadi balok-balok timah yang siap jadi untuk dikirim ke sentaro penjuru dunia. Pabrik yang beroperasi sejak jaman penjajahan belanda hingga kini. Setelah memutari komplek pertimahan kami kembali kerumah. Rumah yang menjadi tempat bermalam saya di kota Muntok kali ini juga cukup mengesankan, saya terima kasih sekali dengan teman saya fitra yang mengizinkan saya untuk menginap dirumah pamannya, selain gratis tentunya rumah tempat saya menginap sungguh masih asli bergaya belanda, lengkap dengan jendelanya yang besar2, lantai yang tinggi, dan kamar-kamar yang besar dan luas, bahkan kamar mandinya juga luas hehehe, serasa hidup jadi none2 belanda. Menurut sang empunya rumah, rumah ini terbilang baru beberapa kali direnovasi, hanya ditambahi ruangan pada bagian dapur saja. Sementara ruangan2 depan masih sama seperti aslinya. Waw…kalo dijogja rumah2 kuno seperti ini sudah jadi home stay hehehe.. ( Jadi ingat Vogels, rumahnya Om Cristian Awuy dikaliurang salah seorang pelopor Ekowisata di Jogjakarta yang penuh dengan Turis asing ).


Perjalanan yang panjang siang tadi, membuat saya cukup lelah dan lebih cepat beristirahat. Rencananya malam itu saya masih ingin menjelajah kota muntok melihat muntok dimalam hari, tapi dikarenakan teman saya dari dinpar mendadak sakit, terpaksa saya menunggu pagi hari untuk melanjutkan aktivitas.

Tak sabar ingin melihat bangunan-bangunan sejarah dalam kota muntok, pukul 06.00 WIB saya sudah rapi jali didepan rumah. Waktu yang singkat ingin saya manfaatkan sebaik mungkin, karena pukul 08.00 WIB saya harus segera kembali ke Ibukota Provinsi, Pangkalpinang. Destinasi Pertama yang saya kunjungi adalah Mesjid Jami’ dan Klenteng Kong Fuk Miau. Uniknya Kedua Tempat Peribadatan berbeda ini terletak bersebelahan, gaya bangunan atap masjid jami’ juga memiliki sentuhan China,  Jelas sekali pemandangan unik ini mencerminkan kerukunan umat beragama di Kota ini. Coba baca salah satu artikel mengenai bangunan ini :
 
Persaudaraan Tionghoa - Melayu di Bangka Belitung.

Sumber:Kompas
http://www.bangkapos.com/detail.php?section=1&category=47&subcat=146&id=16841

KOTA Muntok tahun 1885. Tumenggung Kertanegara II, penguasa wilayah Bangka, berhasrat membangun masjid besar di kampung halamannya sendiri. Masjid yang dikenal dengan nama Masjid Jami’ Muntok itu dibangun persis di sebelah Kelenteng Kuang Fuk Miau.
Kelenteng Kuang Fuk Miau itu sudah ada sejak tahun 1820-an. Dalam buku Sejarah Masjid Jamik Muntok yang ditulis Raden Affan, tokoh masyarakat di Muntok, Kabupaten Bangka Barat, disebutkan, masjid yang usianya lebih dari satu abad itu dibangun secara bergotong royong. Demi mendirikan masjid, penduduk Muntok dan sekitarnya bekerja sukarela tanpa diupah.
Dana untuk membangun masjid dikumpulkan bersama. Para hartawan di Muntok menyumbang uang atau bahan bangunan untuk keperluan masjid. Mereka mendatangkan ahli bangunan dari berbagai daerah di Bangka dan Belitung, juga memesan bahan baku berkualitas dari Jakarta, seperti genteng, batu bata, batu marmer, dan batu pualam.
Pendirian rumah ibadah pada masa itu tidak hanya melibatkan masyarakat Melayu yang beragama Islam. Zhong A Tiam, seorang mayor China yang bertugas mengurus warga China perantauan di Muntok, ikut memperkokoh bangunan masjid. Dengan harta pribadinya, sang mayor menyumbang empat tiang utama penyokong bangunan masjid. Tiang itu terbuat dari kayu bulin yang konon lebih kuat daripada kayu jati.
Meski A Tiam beragama Konghucu, ia ikut membantu lancarnya pelaksanaan ibadah di masjid. Untuk keperluan beribadah pada malam hari, sang mayor menyuruh orang untuk mengantarkan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar penerangan di masjid yang selesai dibangun dalam kurun waktu dua tahun itu, yaitu pada tahun 1887.
Kedekatan kelenteng dan masjid di Muntok menjadi simbol persaudaraan antarumat beragama, khususnya Konghucu dan Islam di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Etnis terbesar yang mendiami dua wilayah kepulauan itu adalah Melayu dan Tionghoa. Sampai sekarang, kerukunan itu masih terjaga.
Seratus tahun kemudian, setelah pendirian masjid di Muntok, pada tahun 2002 di Desa Jeliti, kota Sungailiat, Kabupaten Bangka, didirikan tiga rumah ibadah, yaitu Masjid Baiturahman, Kelenteng Dewi Kuan Yin, dan gereja. Ketiga rumah ibadah ini masing-masing hanya berjarak sekitar 50 meter.
Menurut Ajam (60), pengurus kelenteng, ketiga rumah ibadah itu didirikan oleh Hermanto Wijaya, seorang guru bahasa Mandarin di Sungailiat. Hermanto mendirikan Kelenteng Dewi Kuan Yin sebagai bentuk pemujaan terhadap dewi berparas cantik dan punya sifat welas asih ini.
Kelenteng Dewi Kuan Yin tak hanya dikunjungi umat Konghucu, tetapi juga penganut agama lain. Menurut Ajam, pengunjung biasanya datang ke kelenteng untuk mengambil air sumur dan mandi di kolam.
”Bagi yang percaya, air sumur bisa menyembuhkan penyakit dan air kolam bisa membuat awet muda,” kata Ajam. Karena pengurus masjid belum terbentuk, untuk sementara Ajam yang beragama Konghucu ini setiap hari merawat dan membersihkan masjid.
Lusiana Indriasari & Ilham Khoiri, Kompas cetak.
 Setelah mendokumentasikan beberapa sudut bangunan mesjid dan kelenteng, tak lupa saya mampir ke warung kue di sudut jalan, waw…beragam jenis kue-kue tradisional dijual disini, pantas saja kota ini mendapat julukan Kota Seribu Kue bersamaan dengan pemecahan Rekor Muri Kota Seribu Kue beberapa bulan yang lalu di Muntok. Sarapan pagi saya diisi dengan panganan-panganan kue tradisional Muntok. Dari sini perjalanan saya berlanjut ke Rumah Mayor China, walau agak kecewa karena tidak bisa masuk saya cukup puas melihat arsitektur bangunan ini dari luar pagar.  

Historical Places in The Muntok City"RUMAH MAYOR"

Kehadiran awal orang Tiong Hoa di Bangka. Kejayaan dinasti QING (1644 – 1912) di Cina dengan keempat kaisar nya selama hampir 300 tahun membawa berkah ekonomi bagi negeri tetangga di Asia Tenggara. Diawali dengan masa pemerintahan kaisar Kangxi yang langgeng selama 61 tahun sejak 1661 hingga 1722, dilanjutkan oleh sang... cucu; kaisar Qianglong yang memegang tampuk kekuasaan selama 60 tahun, sejak 1736-1796 membuat negeri Cina mengalami kemajuan dalam berbagai bidang seni dan budaya, dunia ilmu pengetahuan dan administrasi pemerintahan yang efisien. Ratu Dowager Cixi; selir tingkat lima penerus takhta bahkan secara de facto mampu bertahan selama 47 tahun dari tahun 1861-1908. Kemakmuran Cina pada masa dinasti Qianglong menyerap banyak produk dari negeri-negeri sekitar, termasuk timah Bangka dan Belitung. Cina membutuhkan timah bagi keperluan membuat kertas dupa untuk acara persembahyangan, dicampur dengan logam lain timah akan menurunkan produk berupa kaca, cangkir, tempat lilin dan bejana, dan tak lupa bahwa mata uang logam Cina mengandung 5% timah. Walhasil timah tak ubahnya “sembako” bagi Cina. Adalah orang Tiong Hoa yang sama kita ketahui berperan besar dalam membangun ekonomi Bangka berbasis sumber daya mineral timah. Dan Bong Hu But lah ahli dari Cina pertama yang diberi kuasa penuh mencari timah di wilayah Mentok hingga ke Bangka Utara, ke Bunut hingga ke Belinyu. Tiong Hoa berikutnya Boen A Siong, Oen A Siong alias Oen A Sing adalah ahli dan sekaligus kepala pekerja Cina. Pada masa penaklukan Inggris hampir 1600 pekerja Cina dikapalkan ke Mentok untuk membangun barak dan bertani. Kehadiran Belanda di Bangka setelah Inggris; mengimport penambang timah dari Guangdong hingga tercatat ditahun 1823 ada 4,000 penambang Cina (sedikit wanita dan anak-anak), dan pada masa ini hampir ada 3,000 kampung Tiong Hoa di Bangka. Tahun 1845 penambang Tiong Hoa dan pria dewasa Tiong Hoa sesuai dengan asalnya berjumlah: 4,178 Singkeh atau Hakka, 278 Hoklo (Chaozhou), dan 754 Peranakan. Diantara Cina Peranakan ada 28 Muslim. Tahun 1850 jumlah penambang Tiong Hoa di Bangka 5000 orang, meningkat 2000 – 3000 orang setiap tahun hingga tahun 1900. Ada 200 tambang operasi di Bangka, sehingga ada 9,000 Tiong Hoa di Bangka – diluar pria penambang ada 1,277 wanita dewasa, 1,010 anak lelaki dan 934 anak perempuan usia dibawah 12 tahun. Dan pada tahun 1852 jumlah orang Tiong Hoa di Bangka meningkat menjadi 14,000 orang, dimana tiga seperempatnya adalah pria dewasa pekerja tambang.
Peran saudagar timah Tiong Hoa: Era 100 tahun antara 1832-1932 adalah era kejayaan tauke timah Tiong Hoa yang berpangkat Letnan, Kapiten atau Mayor di Bangka. Tan Hong Kwee adalah kapten Tiong Hoa di Mentok tahun 1832 – 1839. Kemudian ada Lim Tja Sim; pengawas tambang timah di Toboali dan Koba. Berlanjut kepada Tan Kong Tian berpangkat Kapten. Diikuti oleh Lim Boe Sing tauke besar yang sempat merugi sewaktu mendatangkan kuli dari Tiongkok diawal 1900. Pengganti Tan pada tahun 1895 adalah mayor Tjoeng A Tiam, yang menjadi Letnan ditahun 1863. Dan mayor Tjoeng lah yang membangun rumah besar yang sampai hari ini masih tegak berdiri, dikenal sebagai RUMAH MAYOR di Mentok. Adapun Lim A Pat berperan di awal 1900, salah satu the big boss, berpangkat Letnan di Mentok Maret 1896 dan KAPTEN hingga 1915. Lim A Pat dikenal pula sebagai pemrakarsa pendirian sekolah THHK, Tiong Hoa Hwe Koan (PY: Zhonghua Huigian, Chinese Association) di Pangkalpinang tahun 1907. Dilanjutkan di Belinyu tahun 1908, Sungailiat tahun 1910, dan Toboali tahun 1912. Tauke Cina terakhir diantara tahun 1837 – 1935 adalah dari marga Bong. Perwira terakhir adalah Bong Joeng Kin (1927-1942) di Pangkalpinang. Setelah Perang Dunia II berakhir, maka berakhir masa Mayor, Kapten dan Letnan Belanda. Diantara para letnan, kapten dan mayor inilah terdapat nama seorang mayor dari keluarga Oen yang lengkapnya adalah: Majoor titulair der Chineezen Oen Kheng Boe (1870 – 1925), pemilik bioskop Banteng atau kala itu dikenal sebagai bioskop Hebe (nama dewi kaum muda dalam mitos Yunani).(GENI.COM)

Waktu berjalan begitu cepat, dan perjalanan saya hanya bisa sebatas hari ini, belum puas rasanya menikmati kota Muntok. Kota ini memang memberikan atsmosfir tersendiri, satu hari tidaklah cukup untuk menjelajahi kota sejarah ini. Jika anda berkunjung kesini anda akan merasa terbawa ke kota masa lampau, Kota yang penuh dengan rumah-rumah bergaya Kolonial. Perjalanan saya ke Bagian Barat Pulau Bangka kali ini memberikan kesan dan kenangan tersendiri, menambah daftar cerita pengalaman travelling saya disalah satu Pulau di Tanah Khatulistiwa, INDONESIA. Bangga rasanya memiliki Tanah Air yang Kaya, baik alam, budaya maupun sejarahnya. Hmm… suatu saat saya akan kembali lagi kekota ini menuntaskan destinasi-destinasi lainnya yang belum terjamah. Menurut cerita Pamannya fitra masih banyak lokasi Pantai-pantai yang alami disudut-sudut Kota Muntok yang indah dan beliau bersedia mengantarkan kami jika kami kembali ke Muntok di lain hari. Oke…Muntok, Tunggu saya kembali lagi menikmati sudut2mu…
Jika anda berwisata ke Bangka Belitung, Jangan lupa masukkan Kota ini sebagai salah satu destinasi kunjungan anda. Seluas apa pariwisata kita, seluas kita menjelajahinya…
Salam pariwisata…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar